Kontak Kami

AL FAJR TOUR & TRAVEL

PT. Massa Makmor World

Ijin Depag : 901/2017
Jl. Ahmad Yani No.145 F, Kleco, Laweyan, Solo

(100 meter barat pasar kleco, selatan jalan)
Telp. (0271) 735- 523

Call / Wa :

Untuk mengetahui kantor agen Al Fajr Tour di seluruh indonesia silahkan klik menu Kantor Agen Al Fajr Tour.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pembayaran Umroh Resmi

Pembayaran Umroh yang sah hanya ke rekening dibawah ini :

Bank Mandiri :
138 00 5252 2005 Atas nama Alfajr Travelindo Indonesia

Bank BNI :
068-565-1907 atas nama Alfajr Travelindo Indonesia

Bank BCA:
392-084-1111 atas nama Alfajr Travelindo Indonesia

Download Formulir

Testimoni

BUS AC

Naim Setyobudi - Sragen
5

Al-Fajr Oke

Bp Syuri - Solo
5

Alhamdulillah Lancar

Bram - Semarang
5

ALHAMDU LILLAAH

ABDUL HAMID SUTARNO - BOYOLALI
5

Ucapan terima kasih

Tedy Brian - Surabaya
5

Ibadah Lancar

Sri Murwati - Karanganyar
5

Al Fajr Mantab

Dhanang Dwi N - Bekasi
5

Travel terbaik

Kamso Dullah M - Klaten
5

Recomended Banget

Thobib Rohani C - Sragen
5

Umroh terjangkau

Sri Lestari Purwo S - Wonosari
5

pertahankan standarisasi

Paimin Cipto W - Wonosari
5

sangat berkesan

Yonan Riza W - Serang, Banten
5
Selengkapnya
Pengunjung
Oktober 2019
S S R K J S M
« Sep    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Sejarah Kota Jeddah

 

Jeddah berasal dari bahasa Arab “Jaddah” atau “Juddah” yang berarti nenek. Konon, nama ini dihubungkan dengan suatu klaim bahwa nenek moyang manusia, Hawa, dikuburkan di daerah ini.

Oleh sebab itu, kota Jeddah ini menjadi salah satu tempat ziarah yang bisa dikunjungi oleh setiap wisatawan atau jamaah haji dan umrah.

Kota Jeddah adalah sebuah kota metropolitan di Arab Saudi. Secara geografis kota ini terletak di sebelah pantai timur Laut Merah pada 309 garis BT dan antara 21-289 garis LU, persisnya di daratan rendah pinggir Laut Merah, ±75 Km dari Kota Suci Makkah.

Ikhwan dan Abdul Halim dalam Ensiklopedi Haji dan Umrah menyebutkan, kota ini memiliki dua iklim cuaca, yaitu musim panas dan musim dingin. Musim panas terjadi pada bulan Juni sampai dengan bulan September dengan suhu 35-42 Celcius dan musim dingin terjadi pada bulan November sampai dengan Februari dengan suhu 10-25 Celcius.

Berdasarkan sensus penduduk tahun lalu, ditemukan bahwa penduduk Kota Jeddah telah mencapai 1,5 juta jiwa. Penduduk kota ini cukup heterogen, karena di dalamnya terdapat berbagai macam suku bangsa di dunia, seperti Arab, Persia, Indonesia, India, Negro, bangsa-bangsa Eropa dan lain-Iain. Kota yang luasnya ± 3.500 kilometer persegi ini tampak padat dan marak dengan kehidupan yang hingar bingar.

Dalam sejarah, daerah Jeddah ini pada awalnya digunakan oleh suku Qudha’ah untuk beristirahat usai berburu ikan. Lambat laun akhirnya mereka jadikan sebagai perkampungan mereka dan selanjutnya mengalami perkembangan yang cukup pesat.

Ahmad Al-Santanawy dalam kitab Dairah Al-Ma’arif Al-lslamiyah menyebutkan, bahwa sejak tahun 648 M kota ini menjadi kota pelabuhan bagi Makkah dan sekitarnya, yaitu sejak diresmikan oleh Utsman bin Affan (Khalifah Rasyidah ke-3) pada masa pemerintahannya.

Dan sejak itu pula, kota ini semakin maju dan memberikan kontribusi sangat besar bagi setiap golongan yang menguasainya, terutama bagi perkembangan perekonomian bangsa Arab dan umat Islam.

Sebelum pusat kekuasaan Islam pindah ke Damsyiq (Damaskus) dan Baghdad, Kota Jeddah menjadi sangat penting bagi kekuasaan Islam saat itu. Demikian pentingnya kota tersebut, oleh Nasir Khasrow, seorang penulis Persia yang pernah mengunjungi kota ini pada tahun 1050, disebut sebagai kota yang kuat, yang dikelilingi oleh benteng-benteng yang kokoh.

“Penduduknya mencapai 5.000 jiwa. Di kota tersebut belum terdapat tumbuh-tumbuhan, sehingga semua kebutuhannya didatangkan dari luar,” jelas Khasrow.

Sekitar Abad ke-15, seiring dengan Vasco da Gama menemukan Tanjung Pengharapan, Jeddah menjadi salah satu pelabuhan yang diincar oleh armada Portugis untuk dijadikan daerah koloni dan pusat kekuatan.

Jeddah pada waktu itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Mamluk dari Mesir dan sebagai gubernurnya adalah Husein Al-Kurdi. Husein adalah sosok yang gigih menentang penjajahan Portugis.

Pada tahun 1517 Jeddah jatuh ke tangan Turki, dan setelah Turki menyerah kepada Inggris (1910-1925), kota ini merupakan bagian dari kerajaan Hijaz. Selanjutnya, Jeddah berada di bawah kekuasaan Abdul Aziz Ibnu Saud dan dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan kerajaan Arab Saudi.

Renovasi dan modernisasi Kota Jeddah sebenarnya dimulai setelah usai perang dunia kedua. Pembangunan gedung-gedung dan jalan-jalan dilakukan secara bertahap dan berjalan dengan cepat karena disokong oleh dana yang besar.

Dana tersebut diperoleh dari hasil kekayaan alam yang dimiliki oleh kerajaan Arab Saudi yang demikian melimpah ruah, terutama dari sektor penghasilan minyak bumi.

Seiring dengan itu, wajah kota ini berubah dari wilayah gersang dan buruk menjadi kota yang indah dan sejuk dipandang mata. Pembangunan gedung-gedung dan jalan-jalan yang membelah kota melancarkan roda komunikasi, sehingga Jeddah berubah menjadi sebuah kota metropolitan.

Sebagai kota pelabuhan dan perdagangan, kota ini disibukkan oleh kegiatan bongkar muat barang, baik impor maupun ekspor. Dari sinilah masuknya barang-barang luar negeri untuk keperluan pembangunan dan kebutuhan rakyatnya.

Dari pelabuhan Jeddah juga dikapalkan komoditi ekspor berupa minyak, gom arab, kulit binatang dan mutiara, hasil kerajinan, seni anyaman, tembikar, pakaian, barang-barang keagamaan, perikanan, pencarian mutiara dan lain-lain.

Dengan demikian, Jeddah mampu memberikan devisa yang sangat besar bagi pembangunan dan kemajuan perekonomian negara Arab Saudi. Jeddah juga berfungsi menjadi tempat penyaluran sebagian kekayaan yang dimiliki Arab Saudi ke negara-negara Islam, baik dalam bentuk kontrak kerja, bantuan, maupun pinjaman.

Ketika Portugis memonopoli perdagangan, Jeddah telah menampakkan peranannya sebagai pusat komersial disamping sebagai pelabuhan haji. Kota ini merupakan pelabuhan transit bagi kapal-kapal dagang, baik dari Mesir, India, dan Timur Jauh.

Ketika Terusan Suez dibuka pada 1869, Jeddah semakin penting peranannya sebagai pelabuhan utama yang harus dilalui oleh kapal-kapal dagang dari berbagai negara.

(Dari berbagai sumber)