Sepanjang Sejarah Islam Sudah 40 Kali Haji Umroh Diliburkan

Pemerintah Arab Saudi menghentikan sementara aktivitas ibadah umroh yang terpusat di Makkah. Penghentian ibadah umroh itu demi mencegah virus Corona menyebar kepada jamaah umrph yang datang dari seluruh dunia. 

Komisaris Taqwa Tours Rafiq Jauhary mengatakan, penutupan haji maupun umroh oleh Kerajaan Arab Saudi bukan hal baru. Selama ini pihak kerajaan juga sudah sering menutup aktivitas ibadah haji demi keamanan semua pihak. 

“Sepanjang sejarah Islam ini sudah 40 kali penyelenggaraan haji diliburkan,” kata Rafiq saat berbincang dengan Republika, Jumat (6/3).

Menurutnya, banyak faktor yang menyebabkan pihak Kerajaan Arab Saudi ketika itu terpaksa harus menutup aktivitas ibadah umrah dan rukun Islam ke lima itu. Penutupan selama ini hanya sementara demi keamanan para tamu-tamu Allah yang datang dari belahan dunia. “Penyebabnya ada yang karena kondisi politik, keamanan, wabah dan lainnya,” katanya.

Terakhir kata Rafiq Jauhary yang juga pembimbing ibadah haji dan umroh ini mengatakan, kerajaan Arab Saudi juga menutup aktivitas ibadah haji. Dan penutupan itu terjadi pada tahun 1987 karena terjadi kasus meningitis yang mengenai 10.000 jamaah sehingga membuat haji diliburkan.

Rafiq mengatakan, mengenai sterilisasi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang dilakukan kemarin, kata dia, jika memang cara seperti ini yang harus ditempuh untuk menekan penyebaran corona virus. “Maka insyaAllah ummat Islam dan travel penyelenggara umroh akan memahami dan menghormati kebijakan Arab Saudi,” katanya.

Rafiq mengatakan, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa kota Madinah tidak akan dimasuki Tha’un, dalam beberapa hadits lain juga disebutkan bahwa hal serupa juga pada Makkah. “Dari Abu Hurairah radhiyallahuanhu anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Di setiap gerbang masuk Madinah akan ada Malaikat yang menjaga masuknya Tha’un dan Dajjal.” (HR Bukhari 1880 dan Muslim 1374).

Namun, kata dia, perlu diketahui bahwa wabah penyakit pernah terjadi di Madinah di zaman pemerintahan Umar Bin Khattab Radhiyallahu Anhu, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari: 2643 dari Abul Aswad ia berkata: “Aku tiba di Kota Madinah, di sana sedang terdapat penyakit, banyak penduduknya yang mati mendadak, kemudian aku duduk menemui Umar Radhiyallahu Anhu.”

Ulama lain juga menjelaskan bahwa di tahun 749 H di Makkah pernah terdapat wabah Tha’un. Namun, pernyataan ini dibantah oleh al-Hafidz Ibnu Hajar al-Asqalani bahwa di tahun tersebut yang menimpa Makkah bukanlah Tha’un, melainkan wabah lain yang tidak berbahaya layaknya Tha’un. 

Lantas bagaimana dengan Corona?

Mengacu dari penjelasan di atas, memang benar bahwa Makkah dan Madinah adalah dua Tanah Suci yang aman (al-Baladul Amin), dua kota ini terhindar dari berbagai bahaya termasuk di antaranya wabah penyakit Tha’un. Tha’un adalah penyakit yang pernah merebak di Syam. Kabarnya dahulu berasal dari Kota Amwas, Palestina. Penyakit ini berasal dari hewan ternak, kemudian menjalar ke manusia menjadi penyakit kulit, lepra, dan sangat mematikan

Belum diketahui apakah Corona virus termasuk dalam kategori Tha’un. Menurut dia, jika Corona Virus adalah Tha’un maka ini termasuk di antara yang dijamin dalam hadits bahwa penyakit ini tidak akan masuk Tanah Suci Makkah dan Madinah. 

Namun jika Corona virus bukanlah termasuk dalam Tha’un, maka sangat mungkin wabah penyakit ini bisa masuk dan menyebar di Tanah Suci sebagaimana yang pernah terjadi di tahun ke 17 H di Madinah, begitupun juga pernah terjadi di tahun 749 H di Makkah. 

“Apa yang menjadi kebijakan Arab Saudi menangguhkan keberangkatan umroh termasuk di antara bentuk pencegahan agar penyebaran virus ini tidak meluas sampai ke Tanah Suci. Wallahu a’lam bish shawab,” katanya. 

Sumber : ihramrepublika